Dampak Buruk Internet: Mengakses Internet Dapat Membuat Orang-Orang Menjadi Bodoh

Home » Article » Dampak Buruk Internet: Mengakses Internet Dapat Membuat Orang-Orang Menjadi Bodoh

Category:

Kita hidup dimana banyak orang merasa bangga saat tidak mengetahui berbagai hal. Bukan hanya percaya hal-hal bodoh, mereka juga secara aktif menolak belajar lebih jauh dan tak mau melepaskan apa yang mereka yakini. Dan saat ini, begitu banyak orang memiliki begitu banyak akses ke begitu banyak pengetahuan, tapi sangat enggan untuk mempelajari apapun. Atau dapat dikatakan bahwa dengan adanya berbagai jenis informasi yang tersedia bukan berarti setiap orang akan semata-mata menjadi lebih baik. Dan itu baru secuil dari dampak buruk internet yang sudah mengidap banyak orang.

Dalam artikel kali ini, kita akan membahas mengenai berbagai dampak buruk internet, serta mengapa mengakses internet justru dapat membuat orang-orang menjadi lebih bodoh dan kejam, dibandingkan jika mereka tidak pernah melakukannya sama sekali.

Mari kita mulai.

Berbagai Dampak Buruk Internet

Tersesat Dalam Lautan Informasi

Hari ini, dunia berorientasi pada informasi. Setiap orang memiliki akses bebas informasi dalam genggaman mereka masing-masing. Banyak persoalan ataupun pertanyaan dapat terselesaikan dengan bertanya kepada Google sebagai jalan pintas ke berbagai sumber pengetahuan.

Namun masalahnya adalah setiap orang bebas mengunggah apapun di internet, sehingga ruang publik dapat dibanjiri oleh informasi-informasi tak penting dan pemikiran setengah matang.

Bahkan karena terlalu banyaknya informasi yang tersedia, untuk membedakan informasi yang benar dan akurat, dengan informasi yang salah dan menyesatkan, menjadi teramat sulit. Dan ini, merupakan salah satu dasar mengapa berbagai dampak buruk internet menjadi sulit untuk dihindari.

Selain kemungkinan untuk mendapatkan informasi yang salah, mengakses internet juga dapat memperlemah kemampuan orang-orang dalam melakukan penelitian dasar. Bahkan, salah satu faktor yang memperparah dampak buruk internet adalah saat ini – perilaku “melihat dan membaca sekilas” sudah menjadi norma bagi banyak orang, dan mereka melabeli perilaku tersebut sebagai sebuah “penelitian”, yang membuat tidak sedikit orang berperilaku seolah-olah menjadi pakar dalam berbagai bidang karena segala sesuatunya dapat mereka cari di Google.

Ada banyak hal yang salah ataupun tidak akurat di internet, dan sesuai dengan pembahasan dalam artikel sebelumnya; “saat ini sebuah kebenaran (seolah-olah) telah ditentukan oleh hasil pencarian teratas Google”. Dalam hitungan detik, terlepas dari kualitas serta asal-usulnya.

Yang Palsu di Internet

Internet adalah sebuah wadah dan lingkungan tanpa aturan, yang membuka pintu untuk segala jenis postingan atau konten apapun, dan setiap orang bebas mengunggah serta mengakses apapun didalamnya.

Beberapa orang terpintar di dunia hadir di internet. Sementara itu, orang-orang paling bodoh juga ada di sana.

Karena itu, saya percaya bahwa setidaknya kita pernah melihat dan mengetahui berbagai berita hoax di internet, melihat berbagai perilaku bodoh di berbagai unggahan postingan, atau bahkan melihat spekulasi setengah matang ataupun ujaran kebencian dalam kolom komentar. Dan ironisnya, berbagai hal buruk ataupun informasi palsu yang beredar di internet, akan tetap berada di sana untuk waktu yang sangat lama.

Dan tidak akan ada cukup halaman dalam buku manapun untuk mendaftarkan jumlah informasi buruk di internet. Kita dapat melihat contohnya dalam wikipedia misalnya.

Wikipedia adalah tempat dimana semua orang bisa membaca, mengakses, menulis dan bahkan menyunting apapun di dalamnya. Memang, wikipedia memiliki artikel unggulan yang ditulis dengan sangat baik, melalui berbagai hasil riset, yang juga telah disunting oleh berbagai pakar sehingga dapat dipercaya.

Namun, dikarenakan wikipedia memberikan kebebasan bagi banyak orang untuk menyunting berbagai hal di dalamnya, wikipedia sendiri juga mengalami kesulitan untuk membedakan antara tulisan orang awam dengan tulisan profesional yang memiliki kredibilitas tinggi untuk menuliskan ataupun membahas berbagai topik tertentu.

Hal tersebut juga secara otomatis menyebabkan berbagai tulisan buruk termasuk kebohongan, mitos, dan berbagai konspirasi yang menyesatkan tetap bertahan dan sulit untuk dihalau, serta memperparah dampak buruk yang ditimbulkan.

Selain perihal wikipedia, saat ini pun terdapat banyak influencer atau tokoh-tokoh penting yang juga telah menyalahgunakan kepopuleran mereka untuk memengaruhi orang lain dengan berbekal pengetahuan yang tak matang. Mereka memberikan nasihat, bersikap seolah-olah menjadi seorang pakar dan menggantikan pengetahuan yang sudah mapan.

Ironisnya lagi, banyak orang lebih mengikuti nasihat selebritas karena mereka adalah orang ataupun tokoh terkenal serta memiliki banyak pengikut, daripada mengikuti nasehat para profesional yang memang memiliki keahlian dalam bidangnya.

Selebritas yang menyalahgunakan kepopulerannya bukanlah hal yang baru. Hanya saja, saat ini dampak buruknya telah diperkuat dengan adanya internet.

Seperti halnya seorang tokoh terkenal bernama Jim Carrey.

Pada tahun 2015 ia menyerukan anti vaksin/imunisasi pada anak. Ia berpendapat bahwa vaksinasi pada anak dapat menyebabkan autisme. Bahkan ia pun juga mencuitkan tulisannya dalam twitter dan mengatakan bahwa; “pemerintah telah meracuni banyak anak dengan vaksin”. Hal ini hanya merupakan satu contoh dari sekian banyaknya influencer ataupun tokoh-tokoh penting yang menyalahgunakan kepopulerannya untuk menyesatkan banyak orang.

dampak buruk yang diperkuat dengan adanya internet

Sementara itu, dikarenakan banyak hal keliru dan menyesatkan di internet yang bertahan dalam jangka waktu yang lama, para pembaca yang minim informasi pun kerap terpancing untuk menyebarkan berita bohong. Ditambah lagi, internet sendiri juga dapat menciptakan sebuah pandangan yang keliru dimana ‘pendapat orang banyak setara dengan fakta ataupun kebenaran’.

Memang, kebebasan untuk saling berbagi gagasan adalah penggerak kuat dari demokrasi, tapi hal tersebut juga membawa risiko bahwa orang yang jahat akan menyalahgunakan perangkat komunikasi massa demi kepentingan mereka sendiri, dan menyebarkan kebohongan serta mitos yang tidak dapat dihalau oleh siapapun.

Manusia yang Lebih Kejam

Banyak kebohongan, mitos, konspirasi, serta hal buruk lainnya yang tersebar di internet. Ironisnya, hal tersebutlah yang justru menyebabkan banyak orang terjebak dalam bias kognitif mereka masing-masing. Dimana mereka hanya tertarik untuk mengonsumsi informasi yang sesuai dengan pandangan mereka – dan mengabaikan segala hal yang bertentangan dengan keyakinan mereka sendiri.

Memang, kita semua memiliki sifat dan kecenderungan alami untuk mencari bukti yang sejalan dengan keyakinan kita. Kita juga memiliki pengalaman pribadi, prasangka, ketakutan, yang membuat kita enggan untuk menerima sudut pandang ataupun nasihat dari para pakar atau orang lain. Bahkan sebagian dari kita memang tidak cukup cerdas untuk mengetahui bahwa kita salah dan menyadari keterbatasan diri kita.

Hal tersebut sudah pernah saya bahas dalam pembahasan sebelumnya, mengenai pentingnya berpikir ulang untuk memperkaya serta mengubah pandangan sesuai dengan fakta dan data terbaru yang ada.

Selain itu, saya yakin jika kita semua pernah bertemu dengan orang-orang yang sok tahu, yang menganggap bahwa dirinya adalah timbunan pengetahuan. Menganggap bahwa dirinya adalah orang yang tahu lebih banyak daripada para ahli. Mereka bisa saja menjadi rekan kerja, teman, atapun keluarga kita.

Hal tersebut sejalan dengan teori Dunning Krueger effect yakni, semakin tidak kompeten seseorang, semakin dia tidak tahu ketika dia salah atau orang lain benar, atau dengan kata lain semakin bodoh seseorang, semakin mereka yakin jika mereka tidak bodoh.

Ditambah lagi, ironisnya adalah orang-orang seperti itu juga hadir di internet. Dimana orang-orang dengan pengetahuan dangkal justru adalah orang yang paling sering berkomentar, menjadi pusat perhatian, bertingkah atau memberikan informasi yang salah, dan merasa lebih percaya diri daripada mereka yang berkompeten. Hal tersebut juga disebabkan karena komunikasi yang instan.

Masalah komunikasi instan adalah karena semuanya serba instan. Internet memungkinkan banyak orang untuk saling berbicara, berkomentar, ataupun berinteraksi secara langsung. Dan internet juga menjadikan setiap orang dari “tidak memiliki pendapat”, menjadi “memiliki pendapat yang salah”. Itulah yang menyebabkan banyak orang berdebat dan bukan berdiskusi, menghina dan bukan mendengar.

Hingga pada akhirnya, mengakses internet membuat banyak orang lebih kejam, bersumbu pendek, dan tidak mampu melakukan diskusi dengan sehat.

Selain itu, salah satu dampak buruk internet yang telah mengidap banyak orang adalah bukan mengenai kurangnya pengetahuan, melainkan keangkuhan akan pengetahuan yang kurang, dan merasa bahwa mereka sama sekali tidak perlu mengetahui berbagai hal secara jelas dan lengkap. Dalam beberapa hal, kondisi ini lebih buruk daripada ketidaktahuan; ini adalah budaya narsistik dan bentuk dari kesombongan yang tidak berakar.

Dan dikarenakan setiap orang memiliki kebebasan untuk berbagi, berinteraksi, dan berpendapat di internet, saat ini pendapat setiap orang (dalam segala hal) harus dianggap setara dengan pendapat orang lain ataupun pendapat dari para pakar/ahli.

Kesimpulan

Era teknologi dan komunikasi modern bukan hanya menciptakan lompatan dalam bidang pengetahuan, melainkan juga memberi jalan dan memperkuat kekurangan manusia. Bahkan mungkin, berbagai dampak buruk internet sudah pernah kita rasakan atau jumpai.

Pada abad ke-21 ada lebih banyak sumber berita dibandingkan dengan sebelumnya. Saat ini orang-orang dapat mengakses dan membagikan berita dengan mudah. Siapapun yang memiliki listrik dan koneksi dapat mengakses berita dari semua arah, kapanpun dan dimanapun mereka menginginkannya.

Namun, lebih banyak bukan berarti lebih berkualitas. Lebih banyak media berarti lebih banyak kompetisi atau persaingan. Lebih banyak kompetisi berarti media berita juga harus berusaha untuk bersaing dalam mendapatkan perhatian. Namun, sekarang masalahnya bukan hanya terdapat lebih banyak berita, melainkan juga ada lebih banyak interaksi dengan berita.

Saat ini setiap orang bebas untuk memberikan pendapat mereka tentang informasi yang terkandung dalam berbagai kejadian. Facebook, Twitter, dan sosial media lainnya adalah “berita berjalan” baru yang seringkali penonton juga ikut terlibat langsung dalam kolom komentar.

Dan sekarang, yang pada awalnya media “memberikan informasi mengenai hal-hal yang harus diketahui oleh audiens”, mulai bergeser menjadi “memberikan informasi yang disukai oleh audiens”.

Semua itu dilakukan untuk mendapatkan perhatian serta traffic dikarenakan banyaknya persaingan yang terjadi. Dan tak jarang, berbagai topik juga “dikemas” agar menjadi lebih menarik bagi para audiens, meskipun terkadang dengan menggunakan cara yang tak etis demi sebuah rating dan klik. Serta hal inilah yang secara otomatis justru harus membuat kita lebih selektif lagi dalam memilih berita yang ingin kita konsumsi.

Memang, sejalan dengan perkembangan zaman, kita dihadapkan dengan segudang manfaat dari internet. Namun, selain itu kita juga tak lepas dari berbagai dampak buruk internet yang selalu mengintai.

Dan sejatinya, internet hanyalah merupakan sebuah alat. Untuk beberapa hal, internet adalah sebuah kemajuan teknologi yang sangat mengagumkan. Begitu juga sebaliknya, terdapat berbagai macam hal buruk yang tersebar di internet, serta internet juga dapat berdampak buruk dan memperkuat kekurangan manusia.

Ditambah lagi, tidak akan ada cukup waktu, tenaga, dan ahli untuk menyunting segala hal yang salah ataupun buruk yang ada di internet. Berbagai hal kebohongan ataupun konspirasi-konspirasi tak masuk akal pun saat ini masih tersedia dan masih dapat di akses di internet. Semuanya akan tetap ada dan akan terus tumbuh bagaikan rumput liar yang menutupi kolam pengetahuan.

Namun, sebagian besar penyebab ketidaktahuan serta dampak buruk internet dapat diatasi jika masyarakat bersedia untuk belajar. Sesuai dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri, yang membuat manusia, betapapun pintar atau berhasilnya mereka, tetap menjadi pembelajar seumur hidup.

Karena sesuai dengan pepatah lama:

Yang menjadi masalah adalah bukan sesuatu yang tidak kita ketahui, tapi sesuatu yang kita pikir kita ketahui namun salah”

John F. Kennedy (mungkin)

Akhir kata, semoga kita senantiasa memiliki kemauan untuk belajar, dan dapat selalu bijak dalam bermedia sosial. Sehingga kita dapat menghindari atau setidaknya meminimalisir berbagai dampak buruk internet yang selalu mengintai.

“Pengetahuan adalah kekuatan, tetapi mengetahui apa-apa saja yang tidak kita tahu adalah kebijaksanaan”

Regards,

AL